INFO KULIAH Dan SKRIPSI

MELAYANI JASA PEMBUATAN TESIS, SKRIPSI, LAPORAN PKL, DAN AGEN PENDAFTARAN KULIAH MUDAH, MURAH

Riwayatku


DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1
Nama
:
YASIN NUNTORO,S.PdI
2
Tempat/Tgl. lahir
:
Banyumas, 28 Nopember 1967
3
Alamat Rumah
:
Jl. Kapulaga I Blok D3/12 RT05.09 Komplek Perumahan Pegawai Cipto RSCM Cilebut  Barat Sukaraja Kabupaten Bogor
4
Telephone
:
081316399472, (0251) 7537774
5
Status
:
Kawin
8
Istri
:
Endang Suryani,SPdI
9
Anak
:
4 (empat) anak




10
Riwayat Pendidikan
:
1
SDN 2 Purwojati, berijazah tahun 1980



2
SMPN Purwojati, Berijazah tahun 1983



3
SMA karya Bakti, berijazah tahun 1986



4
D II GPAI, UIN Syarif Hidayatullah, Maret 2003



5
Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) S1 PAI/ 2002



6
Pasca Sarjana Manajemen Publik STIA YAPPANN, 2008 s.d. sekararang

Pendidikan Non Formal

1.       Madrasah Diniyah, 8 tahun

Pendidikan-Pelatihan
:
1
Mengetik manual, berijazah, 1986



2
.Kursus komputer, berijazah,



3
Menuju Bhs.Indonesia Baku, 1987.



4
Sensus Penduduk, 1990,



5
Diklat Guru Diniyah, Depag Prop. Jabar, 2002.



6
Diklat Wawasan Kebangsaan, Propinsi Jawa Barat, 2005.



7
Diklat Guru Diniyah Pemda Prop. Jabar, 2005.



8
Diklat Manajemen Kemasjidan, Pemda Kab.Bogor, 2005.



9
Diklat/Work shop Kurikulum KTSP Tingkat Kec. 2007



10
Whork Shop Guru Madrasah Tingkat Nasional 2008



11
Penataran Guru TKQ-TPQ, Tingkat Kab.Bogor 2009






Seminar
:
1
Seminar UU RI tentang Keterbukaan Publik dan Pengaruhnya bagi Pendidikan Suasta, 2009.



2
Seminar Nasional Kependidikan Guru Madrasah 2009






Pengalaman Kerja
:
1
Ka TU MTs/SMA Maarif Purwojati, 1986-1991



2
Kepala TU Yaspia Ciracas, 1991-1992.



3
Guru MI Miftahul Jannah Cijantung 1992 s.d. sekarang



4
.Ka TU Majelis Pend.Miftahul Jannah,1992- sekarang.




Pengelola TPQ-Madin Asy-Syifa Kab.Bogor, 1999-skrng.






Pengalaman Organisasi
:
1
Ketua KKMD V Kabupaten Bogor, 2004 s.d 2007



2
Ketua Forum Komunikasi Guru Ngaji (FKGN) Kab.Bogor, 2004 s.d. 2007.



3
Pengurus DKM Asy-Syifa Komplek Perum RSCM Cilebut Bogor, Tahun 2000 s.d. Juni 2008.



4
Pengurus Persatuan Guru Madrasah Tingkat kabupaten Bogor 2008 s.d. sekarang



5
Pendiri dan Ketua Yayasan Guru Ngaji Indonesia

CatatanKecil Perjalanan Hidup;



Saya dibesarkan dari 11 orang bersaudara dari pasangan Keluarga Bapak Soenarko Moch. Sjaichan dan Ibu Rukiyah, lahir pada hari Selasa Wage, pukul 09.30 pagi ; 28 Nopember 1967 M atau bertepatan dengan Tahun Hijriyah; 25 Sya’ban 1367 H.

Sebenarnya saya lahir dan dibesarkan dari keluarga yang cukup beruntung, pada masanya, sebab orang tua saya tergolong dari kalangan Piyayi dan sangat terpandang di Kecamatan Purojati saat itu. Adapun jabatan terahir ketika saya kecil hingga remaja Bapak saya sebagai Kepala Kantor Kecamatan Purwojati Purwokerto Kabupaten Banyumas, beliau termasuk tokoh yang diperhitungkan di Kecamtan Purwojati. Beliau seorang Guru (Mursyid) Tariqoh Naqshobandi Qodariyah, muridnya meliputi beberapa Kecamatan ( Purwojati, Jatilawang, Rawalo ).

Silsilah S.Moch.Sjaichan juga sangat jelas hingga tercatat 6 (Enam) keturunan yaitu Soenarko Mochammad Sjaichan bin Muhammad ‘Aly bin Bangsa Dikara bin Citra Dirana bin Setra Wijaya bin Merta Wijaya alias Yudanegara (Bupati Banyumas). Nama Merta Wijaya/Yudanegara, dapat di temukan di Sejarah Kabupaten Banyumas.

Walaupun saya anak dari Piyayi, tapi sejak kecil sudah terbiasa hidup teratur, berbakti kepada orang tua, prihatin, kerja keras dan mandiri. Kebiasaan hidup teratur dapat dilihat dari kebiasaan aktifitas harian, pagi bangun pagi-pagi, berangkat sekolah, pulang sekolah sekitar pukul 12.00.
Makan siang, shalat Dzuhur, ganti baju mengenakan pakaian khusus bertudung (topi bambo), langsung menuju Kandang Kambing, membuka pintu kandang dan menuntun/membawa kambing Gembel yang berjumlah antara 7-10 ekor.
Selama menggembala kambing di pinggir jalan, kadang disawah, kadang di hutan/lereng gunung, sambil membawa sebilah Sabit dan Karung Goni. Sambil mengawasi gembalaan kambing gembel, saya dengan sibuk merumput (ngarit) tuk di bawa pulang.
Ketika bedug adzan asar berbunyi, siap-siap menggiring kambing Gembel tuk pulang kandang. Sesampai di rumah mandi, tidak lupa melaksanakan shalat Asar. Kegiatan itu dilakukan rutin setiap hari. Keadaan menjadi sedih ketika hujan tiba. Disamping kambing Gembel saya kehujanan, saya juga basah kuyup. Maka tidak heran bila sampai rumah sering nangis sebab rasa pusing masuk angin kehujanan.
Pengalaman ini dalam 1 grumbul/kampung, hanya berdua saja bersama teman sekaligus kerabat semasa kecil yang bernama Amin Supangat.

Tidak cukup disitu,………. sepulang menggembala, untuk mandi membersihkan badan, harus pergi ke Sungai, yaitu mandi di Belik atau pinggir-pinggir sungai, sambil membawa omplong atau ember, tentunya ember itu diisi air untuk mengisi berbagai keperluan rumah seperti padasan (tempat wudhu), gentong air untuk masak, kulah (mengisi bak mandi).
Shalat Mghrib berjamaah di Mushalla (Langgar), terus belajar mengaji hingga waktu Isya berjamaah. Pulang dari Mushalla, makan malam, terus belajar malam.
Setiap hari Sabtu atau Ahad, ramai-ramai bersama teman-teman untuk bersiap-siap mencari kayu bakar di hutan yang berjarak tempuh relative jauh antara 1 s.d. 6 Km, dengan kondisi medan naik turun gunung. Ada pengalaman selama berada di hutan saat mncari kayu bakar maupun mencari rumput di hutan. Ketika lapar, apa yang ditemukan dimakannya contoh makan daden (boled/ubi yg tertinggal), singkong yang tertinggal, pisang mentah, mangga mentah, jambu monyet, menthol, batang daun kedondong, batang daun Mangga semua bias dimakan sekedar menahan lapar.
Ketika haus dirasakan,.. yang bias cepat dilakukan adalah mencari mata air, bila tidak menemukan, maka membuat galian spontan dengan gobed/bendo yang dipegangnnya, di atas tanah hutan disembarang tempat yang diperkirakan banyak air. Karuan saja habis galian spontan yang lebar dan kedalamannya kurang lebih hanya 30 cm, sudah pasti airnya keruh putih kecoklatan. Hingga beberapa kali di tawu (dijernihkan) dengan menggunakan daun pisang atau dedaunan yang ada disekitarnya. Ketikak dirasa cukup bening air mentah dari tanah tersebut langsung diminum.
Saya ingat teman-teman sebaya semasa kecil yang ramai-ramai mencari kayu bakar (met suluh) bersama ; merka adalah : Alip, Sarwono, Seto, Tohid, Amin Supangat, Darno, Bagol, Darsono, masih banyak lagi temen yang tidak bias saya sebut. Kadang juga berangkat bersama dengan generasi yang lebih tuaan atau bujangan mereka adalah Juri, Ayat, Warkim, Seno dll. Sesampainya dihutan sering bertemu rombongan temen yang berasal dari tetagga kampung sebelah, biasanya masing-masing kita dan rombongan mereka memiliki area atau lokasi hutan tersendiri untuk mencari kayu bakar (suluh) atau ngarit.
Ketika musim menam mapun msim Panen Palawija tiba, seperti : singkong, kedelai, ubi dan lainya tiba, itu ada kisah tersendiri yang lebih dahsyat hingga larut malam kerja membantu orang tua. Bisa dibanyangkan dari persiapan menaam, membawa bibit, membawa rabuk (pupuk), memelihara dari hama, hingga memanen salah satu contoh panen Singkon. Nyabut singkong, motongin dari batang, kadang langsung dibuat gaplek tidak di bawa pulang ke rumah, ditaruh dibiarkan di atras tanah kepanasan dan kehujanan jadi gatot.
Mengangkut budin (dingkong) dari gunung menuju rumah dengan jarak kurang lebih 6 Km. Setelah terkumpul dirumah dibalai bagian depan rumah hingga menggunung penuh, pekerjaan yang sangat membosankan yaitu ngoceti (membersihkan) singkong dri kulitnya, untuk menuju proses pembuatan makanan untuk persiapan disimpan untuk beberpa tahun ke depan (proses panjang dan melelahkan) masing-masing jenis olahan memiliki uraian pekerjaan tersendiri, mantap benar,………!!???
Ketika Hari Ahad (minggu) tiba, sejak usia Kelas 4 (empat) SD, saya sudah terbiasa mencuci baju sendiri, termasuk sepatu dan pakaian harian. Dari Kelas 5 (Lima) SD sudah mulai membantu mencucikan baju Bapak beberpa potong dan menyetrikanya.
Ibu saya semenjak saya inget uekitar usia kelas 4 (empat) Sekolah Dasar (SD), ibu sudah sering sakit-sakitan, dengan keluhan sering pusing. Saat Ibu sedang memasak di dapur kemudian beliau sakit kepala, Ibu langsung merebahkan badannya dikamar, tidak bias melanjutkan masak di dapur. Saat itulah saya secara tidak sengaja dididik dan terbiasa membantu ibu masak. Berangkat dari hal-hal yang ringan dan kecil-kecil. Ketika ibu sedang sakit kepala padahal sedang nggoreng sesuatu,…. Ibu dari tempat tidur menyuruh saya,.. Siin,.. tempenya dibalikin,.. takut gosong,.. klo dah agak kemerahan diangkat. Yang belum digoreng dimasukin ke bumbu, begitu seringnya hingga masakan-masakan lainya, seperti tumisan, nyayur bening, lodeh, goring ikan, ayam, semur daging, buat pecel, ( gado-gado), kerupuk, bikin keripik singkong, sriping gedang, goring kacang, buat legendary dan sebagainuya, menanak nasi, liwet maupun didang, diatas tungku (pawon) kayu bakar.
Kejadian itu berlangsung hingga beberapa tahun sampai usia SMA. Saya sudah lihai dan piawai masak untuk mempersiapkan makan sekeluarga.
Pengalaman-pengalaman seperti inilah sudah terbiasa menjadi kebiasaan anak kampung, palagi anak seorang petani atau buruh. Akan tetapi saat itu satu, dua, tiga generasi, atau bahkan generasi sebelum angkatan saya,…. Saya kira pengalaman saya merupakan yang terdahsyat, yang tidak mungkin atau tidak bakalan generasi jaman saya atau sesudahnya njamanin.

Dengan keluarga besar dan musibah, cobaan yang beruntun tidak putus-putusnya, akhirnya keadaan orang tua menjadi hidup pas-pasan. Anak-anaknya termasuk saya hanya bias sekolah Tamat sampai SMA saja. Harapan dan impian setinggi langit ingin kuliah ingin mesantren putus ditengah jalan sebab kondisi kemampuan ekonomi orang tua cukup memprihatinkan.

Kiranya kisah ini bisa menjadi ibrah (pelajaran) hususnya bagi anak-anak dan cucu-cucu saya kemudian, agar mereka termotivasi untuk senantiasa hidup prihatin, mandiri, dan teratur dan berakhlaq, dan umumnya kepada siapa saja yang dapat membaca tulisan ini.

Ternyata orang-orang yang sukses dikemudian hari, kalau melihat ke belakang mereka rata-rata hidup prihatin, mandiri dan teratur.



Nama                     : YASIN NUNTORO, S.PdI., A.Ma
Tempat/Tgl.Lahir   : Banyumas, 28 Nopember 1967.
Alamat Rumah       : Jl. Kapulaga I Blok D3/12 Rt.005/09 Komplek Perumahan
Pegawai RSCM Cilebut Barat Sukaraja Kabupaten Bogor,
Telephone : 081316399472. 0251.7537774.
Status : Kawin.
Istri : Endang Suryani, S.PdI.
Anak : 4 (Empat).
Riwayat Pendidikan : 1.SDN Purwojati Banyumas, berijazah, 1980.
2.SMPN Purwojati, Berijazah, 1983.
3.SMA Karya Bhakti, Berijazah, 1986.
4.Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) S1 PAI/ 2002.
5.D II GPAI, UIN Syarif Hidayatullah, Maret 2003.
6. Pasca Sarjana Manajemen Publik STIA YAPPANN, 2008 s.d. sekararang;
Pendidikan Non Formal: 1.Madrasah Diniyah, 8 tahun.

Penataran-pentaran : 
2.Kursus Mengetik manual, berijazah, 1986,
3.Kursus komputer, berijazah,
4.Menuju Bhs.Indonesia Baku, 1987.
5.Sensus Penduduk, 1990,
6.Diklat Guru Diniyah, Depag Prop. Jabar, 2002.
7.Diklat Wawasan Kebangsaan, Propinsi Jawa Barat, 2005.
8.Diklat Guru Diniyah Pemda Prop. Jabar, 2005.
9.Diklat Manajemen Kemasjidan, Pemda Kab.Bogor, 2005.
10. Diklat/Work shop Kurikulum KTSP Tingkat Kec. 2007
11. Whork Shop Guru Madrasah Tingkat Nasional 2008
12. Penataran Guru TKQ-TPQ, Tingkat Kab.Bogor 2009

Seminar : 1. Seminar UU RI tentang Keterbukaan Publik dan
Pengaruhnya bagi Pendidikan Suasta, 2009.
2. Seminar Nasional Kependidikan Guru Madrasah 2009

Pengalaman kerja : 1.Ka TU MTs/SMA Maarif Purwojati, 1986-1991.
2.Kepala TU Yaspia Ciracas, 1991-1992.
3.Guru MI Miftahul Jannah Cijantung 1992 s.d. sekarang.
4.Ka TU Majelis Pend.Miftahul Jannah,1992- sekarang.
5.Pengelola Diniyah Miftahul Jannah, 1992 – sekarang.
6.Pengelola TPQ-Madin Asy-Syifa Kab.Bogor, 1999-skrng.
Pengalaman Organisasi: 1. Ketua KKMD V Kabupaten Bogor, 2004 s.d 2007.
2. Ketua Forum Komunikasi Guru Ngaji (FKGN) Kab.
Bogor, 2004 s.d. 2007.
3. Pengurus DKM Asy-Syifa Komplek Perum RSCM
Cilebut Bogor, Tahun 2000 s.d. Juni 2008.
4. Pengurus Persatuan Guru Madrasah Tingkat
kabupaten Bogor 2008 s.d. sekarang
5. Pendiri dan Ketua Yayasan Guru Ngaji Indonesia.
CatatanKecil Perjalanan Hidup;

Saya dibesarkan dari 11 orang bersaudara dari pasangan Keluarga Bapak Soenarko Moch. Sjaichan dan Ibu Rukiyah, lahir pada hari Selasa Wage, pukul 09.30 pagi ; 28 Nopember 1967 M atau bertepatan dengan Tahun Hijriyah; 25 Sya’ban 1367 H.

Sebenarnya saya lahir dan dibesarkan dari keluarga yang cukup beruntung, pada masanya, sebab orang tua saya tergolong dari kalangan Piyayi dan sangat terpandang di Kecamatan Purojati saat itu. Adapun jabatan terahir ketika saya kecil hingga remaja Bapak saya sebagai Kepala Kantor Kecamatan Purwojati Purwokerto Kabupaten Banyumas, beliau termasuk tokoh yang diperhitungkan di Kecamtan Purwojati. Beliau seorang Guru (Mursyid) Tariqoh Naqshobandi Qodariyah, muridnya meliputi beberapa Kecamatan ( Purwojati, Jatilawang, Rawalo ).

Silsilah S.Moch.Sjaichan juga sangat jelas hingga tercatat 6 (Enam) keturunan yaitu Soenarko Mochammad Sjaichan bin Muhammad ‘Aly bin Bangsa Dikara bin Citra Dirana bin Setra Wijaya bin Merta Wijaya alias Yudanegara (Bupati Banyumas). Nama Merta Wijaya/Yudanegara, dapat di temukan di Sejarah Kabupaten Banyumas.

Walaupun saya anak dari Piyayi, tapi sejak kecil sudah terbiasa hidup teratur, berbakti kepada orang tua, prihatin, kerja keras dan mandiri. Kebiasaan hidup teratur dapat dilihat dari kebiasaan aktifitas harian, pagi bangun pagi-pagi, berangkat sekolah, pulang sekolah sekitar pukul 12.00.
Makan siang, shalat Dzuhur, ganti baju mengenakan pakaian khusus bertudung (topi bambo), langsung menuju Kandang Kambing, membuka pintu kandang dan menuntun/membawa kambing Gembel yang berjumlah antara 7-10 ekor.
Selama menggembala kambing di pinggir jalan, kadang disawah, kadang di hutan/lereng gunung, sambil membawa sebilah Sabit dan Karung Goni. Sambil mengawasi gembalaan kambing gembel, saya dengan sibuk merumput (ngarit) tuk di bawa pulang.
Ketika bedug adzan asar berbunyi, siap-siap menggiring kambing Gembel tuk pulang kandang. Sesampai di rumah mandi, tidak lupa melaksanakan shalat Asar. Kegiatan itu dilakukan rutin setiap hari. Keadaan menjadi sedih ketika hujan tiba. Disamping kambing Gembel saya kehujanan, saya juga basah kuyup. Maka tidak heran bila sampai rumah sering nangis sebab rasa pusing masuk angin kehujanan.
Pengalaman ini dalam 1 grumbul/kampung, hanya berdua saja bersama teman sekaligus kerabat semasa kecil yang bernama Amin Supangat.

Tidak cukup disitu,………. sepulang menggembala, untuk mandi membersihkan badan, harus pergi ke Sungai, yaitu mandi di Belik atau pinggir-pinggir sungai, sambil membawa omplong atau ember, tentunya ember itu diisi air untuk mengisi berbagai keperluan rumah seperti padasan (tempat wudhu), gentong air untuk masak, kulah (mengisi bak mandi).
Shalat Mghrib berjamaah di Mushalla (Langgar), terus belajar mengaji hingga waktu Isya berjamaah. Pulang dari Mushalla, makan malam, terus belajar malam.
Setiap hari Sabtu atau Ahad, ramai-ramai bersama teman-teman untuk bersiap-siap mencari kayu bakar di hutan yang berjarak tempuh relative jauh antara 1 s.d. 6 Km, dengan kondisi medan naik turun gunung. Ada pengalaman selama berada di hutan saat mncari kayu bakar maupun mencari rumput di hutan. Ketika lapar, apa yang ditemukan dimakannya contoh makan daden (boled/ubi yg tertinggal), singkong yang tertinggal, pisang mentah, mangga mentah, jambu monyet, menthol, batang daun kedondong, batang daun Mangga semua bias dimakan sekedar menahan lapar.
Ketika haus dirasakan,.. yang bias cepat dilakukan adalah mencari mata air, bila tidak menemukan, maka membuat galian spontan dengan gobed/bendo yang dipegangnnya, di atas tanah hutan disembarang tempat yang diperkirakan banyak air. Karuan saja habis galian spontan yang lebar dan kedalamannya kurang lebih hanya 30 cm, sudah pasti airnya keruh putih kecoklatan. Hingga beberapa kali di tawu (dijernihkan) dengan menggunakan daun pisang atau dedaunan yang ada disekitarnya. Ketikak dirasa cukup bening air mentah dari tanah tersebut langsung diminum.
Saya ingat teman-teman sebaya semasa kecil yang ramai-ramai mencari kayu bakar (met suluh) bersama ; merka adalah : Alip, Sarwono, Seto, Tohid, Amin Supangat, Darno, Bagol, Darsono, masih banyak lagi temen yang tidak bias saya sebut. Kadang juga berangkat bersama dengan generasi yang lebih tuaan atau bujangan mereka adalah Juri, Ayat, Warkim, Seno dll. Sesampainya dihutan sering bertemu rombongan temen yang berasal dari tetagga kampung sebelah, biasanya masing-masing kita dan rombongan mereka memiliki area atau lokasi hutan tersendiri untuk mencari kayu bakar (suluh) atau ngarit.
Ketika musim menam mapun msim Panen Palawija tiba, seperti : singkong, kedelai, ubi dan lainya tiba, itu ada kisah tersendiri yang lebih dahsyat hingga larut malam kerja membantu orang tua. Bisa dibanyangkan dari persiapan menaam, membawa bibit, membawa rabuk (pupuk), memelihara dari hama, hingga memanen salah satu contoh panen Singkon. Nyabut singkong, motongin dari batang, kadang langsung dibuat gaplek tidak di bawa pulang ke rumah, ditaruh dibiarkan di atras tanah kepanasan dan kehujanan jadi gatot.
Mengangkut budin (dingkong) dari gunung menuju rumah dengan jarak kurang lebih 6 Km. Setelah terkumpul dirumah dibalai bagian depan rumah hingga menggunung penuh, pekerjaan yang sangat membosankan yaitu ngoceti (membersihkan) singkong dri kulitnya, untuk menuju proses pembuatan makanan untuk persiapan disimpan untuk beberpa tahun ke depan (proses panjang dan melelahkan) masing-masing jenis olahan memiliki uraian pekerjaan tersendiri, mantap benar,………!!???
Ketika Hari Ahad (minggu) tiba, sejak usia Kelas 4 (empat) SD, saya sudah terbiasa mencuci baju sendiri, termasuk sepatu dan pakaian harian. Dari Kelas 5 (Lima) SD sudah mulai membantu mencucikan baju Bapak beberpa potong dan menyetrikanya.
Ibu saya semenjak saya inget uekitar usia kelas 4 (empat) Sekolah Dasar (SD), ibu sudah sering sakit-sakitan, dengan keluhan sering pusing. Saat Ibu sedang memasak di dapur kemudian beliau sakit kepala, Ibu langsung merebahkan badannya dikamar, tidak bias melanjutkan masak di dapur. Saat itulah saya secara tidak sengaja dididik dan terbiasa membantu ibu masak. Berangkat dari hal-hal yang ringan dan kecil-kecil. Ketika ibu sedang sakit kepala padahal sedang nggoreng sesuatu,…. Ibu dari tempat tidur menyuruh saya,.. Siin,.. tempenya dibalikin,.. takut gosong,.. klo dah agak kemerahan diangkat. Yang belum digoreng dimasukin ke bumbu, begitu seringnya hingga masakan-masakan lainya, seperti tumisan, nyayur bening, lodeh, goring ikan, ayam, semur daging, buat pecel, ( gado-gado), kerupuk, bikin keripik singkong, sriping gedang, goring kacang, buat legendary dan sebagainuya, menanak nasi, liwet maupun didang, diatas tungku (pawon) kayu bakar.
Kejadian itu berlangsung hingga beberapa tahun sampai usia SMA. Saya sudah lihai dan piawai masak untuk mempersiapkan makan sekeluarga.
Pengalaman-pengalaman seperti inilah sudah terbiasa menjadi kebiasaan anak kampung, palagi anak seorang petani atau buruh. Akan tetapi saat itu satu, dua, tiga generasi, atau bahkan generasi sebelum angkatan saya,…. Saya kira pengalaman saya merupakan yang terdahsyat, yang tidak mungkin atau tidak bakalan generasi jaman saya atau sesudahnya njamanin.

Dengan keluarga besar dan musibah, cobaan yang beruntun tidak putus-putusnya, akhirnya keadaan orang tua menjadi hidup pas-pasan. Anak-anaknya termasuk saya hanya bias sekolah Tamat sampai SMA saja. Harapan dan impian setinggi langit ingin kuliah ingin mesantren putus ditengah jalan sebab kondisi kemampuan ekonomi orang tua cukup memprihatinkan.

Kiranya kisah ini bisa menjadi ibrah (pelajaran) hususnya bagi anak-anak dan cucu-cucu saya kemudian, agar mereka termotivasi untuk senantiasa hidup prihatin, mandiri, dan teratur dan berakhlaq, dan umumnya kepada siapa saja yang dapat membaca tulisan ini.
Ternyata orang-orang yang sukses dikemudian hari, kalau melihat ke belakang mereka rata-rata hidup prihatin, mandiri dan teratur.

0 komentar:

Posting Komentar